Assalamualaikum...

Assalamualaikum...

Selasa, 19 Maret 2013

Perkembangan Kurikulum dan Analisa Skripsi

    Tugas Mandiri                                                                    Dosen Pembimbing
Filsafat Pendidikan                                                       Drs. H. Ainani Aswad, M.Ag

Perkembangan Kurikulum Di Indonesia
Dan Analisa Skripsi
Oleh:

Alfiah
Npm: 11.12.2683

Prodi: Pendidikan Agama Islam (PAI)
Semester: III D
Jurusan: Tarbiyah (pagi)


40497_147747701918076_147733051919541_382390_1649990_n 

Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI)
Darussalam Martapura
2012-2013

DAFTAR ISI
                                                                                 Halaman
DAFTAR ISI                           ……………………………………… 2
BAB  I        KURIKULUM     ……………………………..…….… 3
A.   Latar Belakang…………………………………………. 3
B.   Kurikulum 1994   ………..........………………………  3
C.   Kurikulum 2004 (KBK) ………………....……………  5
D.   Kurikulum 2006 (KTSP)         …………..…………...……… 6
E.    Kesimpulan……………………………………………...         8
BAB  II       SKRIPSI              ……………………..……….……...    10
A.   Judul Dan Analisis Skripsi Pertama …………………  10
B.   Judul Dan Analisis Skripsi Ke-2       …………………  13
C.   Judul Dan Analisis Skripsi Ke-3       …………………  16
D.   Judul Dan Analisis Skripsi Ke-4       .………………… 19
E.    Judul Dan Analisis Skripsi Ke-5       …………………  22
F.    Judul Dan Analisis Skripsi Ke-6       …………………  25
G.   Judul Dan Analisis Skripsi Ke-7       …………………  28
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………        31











BAB I
KURIKULUM
A.   Latar Belakang
Kurikulum adalah suatu hal yang esensial dalam suatu penyelenggaraan pendidikan. Secara sederhana, kurikulum dapat dimengerti sebagai suatu kumpulan atau daftar pelajaran yang akan diajarkan kepada peserta didik komplit dengan cara pemberian nilai pencapaian belajar di kurun waktu tertentu.
Tercatat sudah ada 7 kurikulum, kurikulum pertama tahun 1964, kurikulum 1976, kurikulum 1984, kurikulum 1994, kurikulum edisi revisi 1999 dan yang terbaru kurikulum 2004, yang dilanjut dengan lahirnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006. Masing-masing kurikulum memiliki warna dan ciri khas tersendiri. Warna dan ciri khas tiap kurikulum menunjukkan kurikulum berusaha menghadirkan sosok peserta didik yang paling pas dengan jamannya.
Perubahan kurikulum dari waktu ke waktu bukan tanpa alasan dan landasan yang jelas, sebab perubahan ini disemangati oleh keinginan untuk terus memperbaiki, mengembangkan, dan meningkatkan kualitas sistem pendidikan nasional.
B.   Pengertian Kurikulum 1994
Berhubungan dengan aspek teori dan terlukis dalam kurikulum berdasarkan apa yang tercantum dalam olumen tertulis. Kurikulum 1994 memuat tiga hal, yaitu:
1.     Dokumen yang memuat garis-garis besar pokok bahasan.
2.     Dokumen yang memuat panduan pelaksanaan pembelajaran.
3.     Dokumen baku yang memua tpanduan penilaian hasil belajar siswa.
Salah satu tujuan umum yang ada pada kurikulum matematika tahun 1994 adalah mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan di dunia yang selalu berkembang melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efektif, dan efisien.
pemerintah berusaha mengembangkan kurikulum baru yang mampu membekali siswa berkaitan dengan problem kehidupan.Berdasarkan UU No. 2 tahun 1989 tentang pendidikan nasional dan kebutuhan pada jaman itu yang merupakan pemicu lahirnya kurikulum tahun 1994. Menurut UU tersebut, pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mngembangkan manusia Indonesia seutuhnya.
1.     Kelebihan Kurikulum 1994
Dalam kurikulum tahun 1994, pembelajaran matematika mempunyai karakter yang khas, struktur materi sudah disesuaikan dengan psikologi perkembangan anak, materi keahlian seperti computer semakin mendalam, model-model pembelajaran matematika kehidupan disajikan dalam berbagai pokok bahasan. Intinya pembelajaran matematika saat itu mengedepankan tekstual materi namun tidak melupakan hal-hal kontekstual yang berkaitan dengan materi.
2.     Kekurangan Kurikulum 1994
Selama dilaksanakannya kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan, diantaranya:
a.     Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/substansi setiap mata pelajaran.
b.     Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari.
C.   Pengertian Kurikulum 2004 (KBK)
kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau Kurikulum 2004, adalah kurikulum dalam dunia pendidikan di Indonesia yang mulai diterapkan sejak tahun 2004 walau sudah ada sekolah yang mulai menggunakan kurikulum ini sejak sebelum diterapkannya.
Secara materi, sebenarnya kurikulum ini tak berbeda dari Kurikulum 1994, perbedaannya hanya pada cara para murid belajar di kelas. Dalam kurikulum terdahulu, para murid dikondisikan dengan sistem caturwulan. Sedangkan dalam kurikulum baru ini, para siswa dikondisikan dalam sistem semester.
Dengan demikian kurikulum berbasis kompetensi ditujukan untuk menciptakan tamatan yang kompeten dan cerdas dalam membangun identitas budaya dan bangsanya. Kurikulum ini dapat memberikan dasar-dasar pengetahuan, keterampilan, pengalaman belajar yang membangun integritas sosial, serta membudayakan dan mewujudkan karakter nasional.
1.     Kelebihan Kurikulum 2004
a.     Mengembangkan kompetensi-kompetensi siswa pada setiap aspek mata pelajaran dan bukan pada penekanan penguasaan konten mata pelajaran itu sendiri.
b.     Mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student oriented). Siswa dapat bergerak aktif secara fisik ketika belajar dengan memanfaatkan indera seoptimal mungkin dan membuat seluruh tubuh serta pikiran terlibat dalam proses belajar.
c.      Guru diberi kewenangan untuk menyusun silabus yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi di sekolah/daerah masing-masing.
d.     Bentuk pelaporan hasil belajar yang memaparkan setiap aspek dari suatu mata pelajaran memudahkan evaluasi dan perbaikan terhadap kekurangan peserta didik.
e.      Penilaian yang menekankan pada proses memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi kemampuannya secara optimal, dibandingkan dengan penilaian yang terfokus pada konten.
2.     Kekurangan Kurikulum 2004
Kerancuan muncul bila dikaitkan dengan alat ukur kompetensi siswa, yaitu ujian akhir sekolah maupun nasional masih berupa soal pilihan ganda. Bila target kompetensi yang ingin dicapai, evaluasinya tentu lebih banyak pada praktek atau soal uraian yang mampu mengukur seberapa besar pemahaman dan kompetensi siswa. Meski baru diuji cobakan di sejumlah sekolah kota-kota di Pulau Jawa, dan kota besar di luar Pulau Jawa telah menerapkan KBK. Hasilnya tak memuaskan. Guru-guru pun tak paham betul apa sebenarnya kompetensi yang diinginkan pembuat kurikulum.
D.  Pengertian Kurikulum 2006 (KTSP)
KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan di Indonesia. KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Penyusunan KTSP oleh sekolah dimulai tahun ajaran 2007/2008 dengan mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang diterbitkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional masing-masing Nomor 22 Tahun 2006 dan Nomor 23 Tahun 2006, serta Panduan Pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh BSNP. Pada prinsipnya, KTSP merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari SI, namun pengembangannya diserahkan kepada sekolah agar sesuai dengan kebutuhan sekolah itu sendiri. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Pelaksanaan KTSP mengacu pada Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL.
1.     Kelebihan Kurikulum 2006 (KTSP)

a.     Mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan.
b.     Mendorong para guru, kepala sekolah, dan pihak manajemen sekolah untuk semakin meningkatkan kreativitasnya dalam penyelenggaraan program-program pendidikan.
c.      KTSP sangat memungkinkan bagi setiap sekolah untuk menitik beratkan dan mengembangkan mata pelajaran tertentu yang akseptabel bagi kebutuhan siswa. Sekolah dapat menitik beratkan pada mata pelajaran tertentu yang dianggap paling dibutuhkan siswanya.
d.     KTSP memberikan peluang yang lebih luas kepada sekolah-sekolah plus untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan.
e.      Menggunakan berbagai sumber belajar.
f.       kegiatan pembelajaran lebih bervariasi, dinamis dan menyenangkan.

2.     Kekurangan Kurikulum 2006 (KTSP)
a.     Kurangnnya SDM yang diharapkan mampu menjabarkan KTSP pada kebanyakan satuan pendidikan yang ada. Minimnya kualitas guru dan sekolah.
b.     Kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pendukung sebagai kelengkapan dari pelaksanaan KTSP.
c.      Masih banyak guru yang belum memahami KTSP secara komprehensif baik kosepnya, penyusunannya,maupun prakteknya di lapangan.
d.     Penerapan KTSP yang merekomendasikan pengurangan jam pelajaran akan berdampak berkurangnya pendapatan guru. Sulit untuk memenuhi kewajiban mengajar 24 jam, sebagai syarat sertifikasi guru untuk mendapatkan tunjangan profesi.
E.   Kesimpulan
Kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Dengan demikian kurikulum merupakan alat penting dalam proses pendidikan, sebagai alat yang penting untuk mencapai tujuan. Kurikulum hendaknya berperan dan bersifat anticipatori dan adaptif terhadap perubahan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sebagaimana yang ada di negara ini. Kurikulum seringkali berubah-ubah misalnya dari kurikulum 1994 berganti ke Kurikuum Berbasis Kompetensi di tahun 2004. dan di tahun 2006 kini berganti kurikulum yaitu kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Perubahan Kurikulum disebabkan adanya ketidak puasan masyarakat terhadap hasil kurikulum yang telah/sedang terjadi dan adanya perbedaan dalam satu komponen kurikulum atau lebih dalam dua periode.
Kurikulum yang ada di negara ini ada yang bersifat positif dan bersifat negatif baik guru sendiri maupun bagi siswanya.











BAB II
SKRIPSI

A

MOTIVASI ORANG TUA KEPADA ANAK
UNTUK BELAJAR AL-QUR’AN DI BINCAU INDAH
DESA BINCAU KECAMATAN MARTAPURA
KABUPATEN BANJAR


DI SUSUN
OLEH:

HJ. ROSITA



ABSTRAK
Skripsi ini mengetengahkan tentang motivasi orang tua kepada anak untuk belajar Al-Qur’an di Bincau Indah Desa Bincau Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar, maka penelitian ini bertujuan untuk memperoleh secara jelas pelaksanaan motivasi orang tua kepada anaknya untuk belajar Al-Qur’an dan faktor-faktor yang menjadi dasar pemberian motivasi tersebut.
Hipotesis penelitian ini dikemukakan sebagai berikut motivasi atau dorongan orang tua kepada anaknya untuk belajar Al-Qur’an di Bincau Desa Indah Desa Bincau Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar dirasakan sekarang ini sudah mulai kurang terlaksana dengan baik. Hal ini disebabkan berbagai penghambat. Faktor-faktor utama yang mempengaruhi dalam pemberian motivasi tersebut diperkirakan latar belakang pendidikan orang tua, factor lingkungan yang tidak mendukung serta factor ekonomi yang kurang memadai..
A.   Perumusan Masalah
1.     Bagaimana motivasi orang tua kepada anaknya untuk belajar Al-Qur’an di Bincau Indah Desa Bincau Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar?
2.     Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pemberian motivasi orang tua kepada anaknya dalam belajar Al-Qur’an?

B.   Kesimpulan
Dari beberapa uraian yang telah penulis kemukakan pada bab-bab terdahulu, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.     Motivasi orang tua kepada anaknya untuk belajar Al-Qur’an di Bincau Indah Desa Bincau Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar masuk dalam kategori sedang, berdasarkan interprestasi data atas jawaban angket sebesar 42%.
2.     Faktor-faktor penyebab kurangnya pemberian motivasi orang tua adalah:
a.     Latar belakang orang tua yang kurang menunjang.
b.     Kurangnya waktu yang tersedia.
c.      Lingkungan yang kurang mendukung
d.     Ekonomi yang kurang memadai.

C.   Kritik
Saya sangat menyetujui Motivasi orang tua kepada anaknya dalam mempelajari Al-Qur’an, karena Al-Qur’an itu adalah pedoman bagi setiap umat Islam, sikap dan motivasi orang tua itu sungguh sangat berpengaruh kepada prilaku si anak, apabila orang tua mengajarkan hal yang baik maka anak itu pun akan terbiasa melakukan hal-hal yang baik juga.











                                  
B

UPAYA GURU DALAM MEMBENTUK KEMANDIRIAN SISWA
DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 1
KARANG INTAN KABUPATEN BANJAR



DI SUSUN
OLEH:

JAMHURI









ABSTRAK
Jamhuri. 2010 Upaya Guru Dalam Membentuk Kemandirian Siswa Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Karang Intan kabupaten Banjar. Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darussalam Martapura. Dosen pembimbing: (I) Drs. Emroni Gazali, M.Ag., dan (II) Drs. H. Safroyani..
Kemandirian siswa merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Membentuk kemandirian siswa bukanmerupakan hal yang mudah, karena itu memerlukan upaya semua pihak, termasuk guru di sekolah. Kemandirian siswa SMPN 1 Karang Intan kelihatannya masih kurang, oleh karena itu guru-guru yang mengajar di sekolah ini perlu melakukan upaya agar siswanya mandiri.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan upaya guru dan membentuk kemandirian siswa pada Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Karang Intan Kabupaten Banjar meliputi pemberian motivasi agar siswa mandiri, memberikan bimbingan dan pengarahan, memberikan latihan-latihan serta melakukan pengawasan dan hukuman agar siswa mandiri.
A.   Perumusan Masalah
1.     Bagaimana upaya guru dalam membentuk kemandirian siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Karang Intan Kabupaten Banjar?
2.     Faktor apa saja yang mempengaruhi upaya guru dalam membentuk kemandirian siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Karang Intan Kabupaten Banjar?
B.   Kesimpulan
1.     Upaya guru dan membentuk kemandirian siswa pemberian motivasi agar siswa mandiri, memberikan bimbingan dan pengarahan, memberikan latihan-latihan serta melakukan pengawasan dan hukuman agar siswa mandiri.
2.     Faktor yang menunjang adalah latar belakang pendidikan guru yang sesuai dengan mata pelajaran yang di asuh serta adanya kerjasama guru dalam aspek membimbing dan melatih siswa.

C.   Kritik
Setelah mempelajari skipsi yang berjudul Upaya Guru dalam Membentuk Kemandirian Siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri  1 Karang Intan Kabupaten Banjar saya sebagai calon guru sangat menyetujuinya. Guru-guru hendaknya meningkatkan kerjasama dalam pengawasan, agar siswa dapat dilatih dan dibiasakan untuk mandiri, tidak selalu bergantung kepada guru atau bimbingan orang lain. Orang tua/keluarganya juga harus ikut berupaya memandirikan anaknya dirumah agar selalu mandiri dan jangan dimanjakan.









C
BERBAKTI KEPADA ORANG TUA MENURUT KITAB BIDAYAH
                   AL-HIDAYAH KARANGAN IMAM AL-GHAZALI   


DISUSUN
OLEH:

MUHAMMAD MIFTAH FUADY







ABSTRAK
Muhammad Miftah Fuady, 2011, Berbakti Kepada Orang Tua Menurut Kitab Bidayah Al-Hidayah Karangan Imam Al-Ghazali, Skripsi, Jurusan Tarbiyah Program Studi  Pendidikan Agama Islam. Pembimbing (I) DR. H. Ahmad Fauzan Saleh, M.ag., dan Pembimbing (II) Drs. H. Maidaini, BA., M.Pd.
             Al-Ghazali, Bidayatul hidayah, Berbakti
                   Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama besar yang terkenal dengan keilmuannya. Beliau banyak mengarang kitab tentang berbagai macam adab. Salah satu karangan beliau yang terkenal ialah kitab Bidayah al-Hidayah , yaitu kitab yang benyak membahas tentang berbagai macam masalah akhlak atau adab.
                   Masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah bagaimana tentang berbakti kepada orang tua menurut kitab  Bidayatul Hidayah Karangan Imam Al-Ghazali.
A.   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan penegasan judul tersebut di atas, maka rumusan masalah yang menjadi pembahasan dalam penelitian ini adalah: bagaimana cara berbakti terhadap orang tua menurut kitab Bidayah al-Hidayah karangan Imam al-Ghazali?

B.   Kesimpulan
Harus mendengarkan yang dikatakan oleh orang tua kepada anaknya misalnya orang tua sedang berbicarabatau sedang member nasihat.
Mematuhi perintahnya selama perintah itu bukan dalam mendurhakai Allah. Namun, hal demikian masih perlu tambahan kitab-kitab lain, dikarenakan hal-hal tersebut hanya dilakukan kepada orang tua yang masih hidup saja, tidak terdapat hal yang berkaitan tentang berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal.
C.   Kritik
Hendaknya kepada si anak dapat mengerti dan memahami tata cara berbakti kepada orang tuanya baik yang masih hidup ataupun yang sudah tiada. Dan orang tuanya pun juga diharapkan dapat lebih memahami dan menguasai pendidikan keluarga khususnya mendidik akhlak anak-anaknya.












D

PENDIDIKAN KELUARGA SAKINAH MENURUT HADIS
RASULULLAH
(Studi Hadis Riwayat Siti Aisyah)


DI SUSUN
OLEH:

SAPRIAH







ABSTRAK
Hasil penelitian ditemukan bahwa pendidikan keluarga sakinah menurut hadis Rasulullah SAW (Studi Hadis Riwayat Siti Aisyah), yaitu suami atau istri tidak boleh memaksakan kehendak pribadi, dan tidak boleh suami atau istri menuntut hak-haknya yang diluar kemampuan pasangannya, serta menganjurkan kepada istri untuk beribadah kepada Allah SWT menurut kemampuanya. Keterkaitan hadis Rasulullah SAW (Studi Hadis Riwayat Siti Aisyah) dengan pendidikan keluarga sakinah , yaitu bahwa dalam keluarga yang sakinah adanya  sikap saling menghargai antara suami dan istri dan seorang suami sebagai kepala rumah tangga harus mempu menjadi teladan bagi anggota keluarganya.

A.   Perumusan Masalah
1.     Bagaimana Pendidikan keluarga sakinah menurut hadis Rasulullah SAW (Studi Hadis Riwayat Siti Aisyah)?
2.     Bagaimana keterkaitan hadis Rasulullah SAW (Studi Hadis Riwayat Siti Aisyah) dengan pendidikan keluarga sakinah?

B.   Kesimpulan
Setelah melakukan studi mengenai skripsi ini, maka penulis mengambil kesimpulan akhir tentang studi ini, yaitu: Pentingnya pendidikan keluarga sakinah dalam kehidupan manusia, berdasarkan studi Hadis Rasulullah riwayat Siti Aisyah, suami istri tidak boleh memaksakan kehendak pribadi, dan menuntut hak-haknya yang diluar kemampuan pasangannya, serta menganjurkan kepada istri untuk beribadah kepada Allah SWT.

C.   Kritik
Setelah melakukan studi tentang skripsi yang berjudul Pendidikan Keluarga Sakinah menurut Hadis Rasulullah SAW (Studi Hadis Riwayat Siti Aisyah), saya ingin memberikan pendapat mengenai penulisan skripsi tersebut, kurangnya penjelasan yang lebih mendalam mengenai hadis yang menjelaskan Pendidikan Keluarga Sakinah, karena pentingnya penjelasan itu memudahkan untuk memahami kaidah-kaidah yang ada dalam skripsi itu sehingga hasil penulisan benar-benar mampu dimengerti bagi pembaca.











E

KEMAMPUAN BERBAHASA ARAB SANTRI
DI PONDOK MODERN AN-NAJAH CINDAI ALUS PUTERI
MARTAPURA KOTA KABUPATEN BANJAR


DI SUSUN
OLEH:

BUDI RINASANTI








ABSTRAK
BUDI RINASANTI. 2010 Kemampuan Berbahasa Arab Santri Di Pondok Modern An-Najah Cindai Alus Puteri Martapura Kota Kabupaten Banjar. Skripsi, Program Studi Pendidikan Agama Islam, Jurusan Tarbiyah, Pembimbing (I) Drs. H.A Maidaini, BA, M.Pd., Pembimbing (II) Drs. Abdussalam.
          Kemampuan berbahasa arab di pondok modern cindai alus puteri martapura kota kabupaten banjar menunjukkan bahwa santri kelas III Aliyah di pondok pesantren tersebut menunjukkan cukup mampu menerapkan pelajaran Bahasa Arab dalam berbahasa aktif, namun setelah dilakukan observasi sementara ternyata masih ada santri yang bermukim dan santri yang tidak bermukim belum mampu (lancar) dalam berbahasa arab.
          Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah Kemampuan Berbahasa Arab Santri Di Pondok Modern An-Najah Cindai Alus Puteri Martapura Kota Kabupaten Banjar. Dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

A.   Rumusan Masalah
1.     Bagaimana kemampuan Berbahasa Arab Santri di Pondok Modern An-Najah Cindai Alus Martapura Kota Kabupaten Banjar?
2.     Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kemampuan Berbahasa Arab Santri di Pondok Modern An-Najah Cindai Alus Martapura Kota Kabupaten Banjar?



B.   Kesimpulan
1.     Kemampuan Berbahasa Arab Santri di Pondok Modern An-Najah Cindai Alus Puteri Martapura Kota menunjukkan bahwa kemampuan Berbahasa Arab dalam hal penguasaan yang meliputi kemampuan pengucapan kata yang tepat, kemampuan menyimak, kemampuan memahami makna, kemampuan intonasi dalam berbicara cukup baik.
2.     Faktor-faktor yang mempengaruhi
a.     Motivasi
b.     Ketekunan
c.      Guru
d.     Lingkungan
e.      Fasilitas

C.   Kritik
Mengajarkan Bahasa Arab kepada santri memang sangat bermanfaat bagi dirinya sendiri, tapi janganlah terlalu dipaksakan, karena kemampuan setiap orang berbeda-beda, berikanlah istirahat kepada santri jangan disuruh belajar terus-terusan agar pelajaran lebih menyenangkan bisa menggunakan metode dengan cerita.







F

CARA MENDIDIK ANAK DALAM ISLAM KAJIAN
KAJIAN SURAT AL FURQON AYAT 74


DI SUSUN
OLEH:

NURIAH









ABSTRAK
Nuriah, 2011. Cara Mendidik Anak Dalam Islam Kajian Surat Al Furqon Ayat 74.  Skripsi, Jurusan Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI). Pembimbing: (I) Dr. H. A. fauzan Saleh, M. Ag (II) Abdul Hadi, M.Ag
Tulisan ini memaparkan tentang konsep cara mendidik anak dalam Islam kajian surat Al Furqon ayat 74, selama ini banyak cara-cara yang dirumuskan oleh para ahli namun adakah keberhasilan yang dapat menggerakkan hati manusia untuk mengatakan metode tersebut benar-benar tepat, oleh sebab itu penulis tertarik untuk meneliti cara mendidik anak menurut surat Al Furqon ayat 74.
Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan yang bersifat studi literature. Subyeknya adalah cara mendidik anak dalam Islam kajian surat Al Furqon ayat 74. Objeknya relevansi cara mendidik anak. Data dikumpulkan dengan teknik survey kepustakaan.
A.   Rumusan Masalah
1.     Bagaimana cara mendidik anak dalam Islam kajian surat Al Furqon ayat 74?
2.     Adakah implikasi cara mendidik anak dalam Islam kajian surat Al Furqon ayat 74 dalam pendidikan?

B.   Kesimpulan
Cara mendidik anak kajian surat Al Furqon ayat 74 yaitu mendidik anak melalui do’a, sholat dan usaha dengan melalui pemilihan calon istri yang solehah, memberikan teladan, memberikan perhatian baik lahir dan bathin. Medidik anak mampu sebagai pemimpin orang-orang yang bertaqwa. Pesiapkan anak sebagai generasi penerus risalah Islam dan mendidik anak sebagai investasi orang tua di dunia dan di akhirat dilakukan dengan tulus, ikhlas, dan konsisten.
C.   Kritik
Setelah menganalisis Skripsi yang berjudul cara mendidik anak dalam Islam kajian surat al furqon ayat 74 ini menurut saya masih sangat kurang, karena Rumusan Masalah dan Kesimpulannya tidak sesuai dan sulit untuk dipahami dan dipelajari. Dan surat Al Furqon ayat 74 nya pun tidak ada tertulis dalam skripsi ini.















G

ANAK SHALEH MENURUT AL QUR’AN
(STUDI TENTANG PENGERTIAN DAN USAHA MEWUJUDKANNYA)
PADA SURAT LUQMAN:13, ALI IMRAN:114 DAN ANNISA:69


DI SUSUN
OLEH:

NORMAS





ABSTRAK
Normas, 2011, Anak Shaleh Menurut Al Qur’an (Studi Tentang Pengertian  dan Usaha Mewujudkannya) Pada Surat LUQMAN:13, ALI IMRAN:114 DAN ANNISA:69, Jurusan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam STAI Darussalam Martapura Pembimbing (I) Abdul Hadi, M.Ag (II) Hj. Lusiana, SH., M.Pd
Tulisan ini mencoba memaparkan tentang konsep anak sholeh dan usaha mewujudkannya, menurut surat Luqman ayat 13.
Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan yang bersifat studi literatur Subyeknya adalah Al Qur’an Surat Ali Imran: 114, Annisa:69 dan Luqman:13. Objeknya relevansi pendidikan anak sholeh menurut ketiga surat tersebut.
A.   Rumusan Masalah
1.     Bagaimana anak shaleh menurut Al Qur’an surat Luqman:13, Ali Imran: 114 dan Annisa:69?
2.     Bagaiman relevansi pendidikan anak shaleh menurut Al Qur’an surat Luqman:13, Ali Imran: 114 dan Annisa:69?

B.   Kesimpulan
1.     Anak shaleh adalah
a.     Tidak menyekutukan Allah adalah kezaliman sangat besar serta berbakti kepada orang tua.
b.     Orang yang menjauhi larangannya mengerjakan kebajikan
c.      Orang yang tangguh dalam kebaikan dan selalu berusaha mewujudkannya.

C.   Kritik
Anak  Shaleh Menurut Al Qur’an Pada Surat LUQMAN:13, ALI IMRAN:114 DAN ANNISA:69 Menurut Saya sangat bagus untuk diterapkan, karena apa yang tercantum dalam Al Qur’an itu menunutun pada kebaikan dan Al Qur’an diyakini kebenarannya. Jadi sebagai calon orang tua pendidikan dalam surat ini sangat baik untuk dicontoh agar anak menjadi shaleh dan shalehah.













DAFTAR PUSTAKA
Mulyasa E, Dr. M.Pd. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. PT Remaja Rosdakarya. Bandung
Kusnandar, Guru Professional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada, Cet-6, 2010
Ahmad, Dkk, Pengembangan Kurikulum. Bandung: Pustaka Setia, 1998

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar