Assalamualaikum...

Assalamualaikum...

Jumat, 28 Juni 2013

Psikoterapi dalam Agama



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Upaya mendekatkan antara psikologi dengan agama, telah dilakukan oleh para filosof dan psikolog. Berkaitan dengan perspektif ini, ajaran islam memiliki hubungan yang erat dan mendalam dengan ilmu jiwa dalam soal pendidikan akhlak dan pembinaan mental.
Tujuan keduanya adalah untuk mencapai kesejahteraan jiwa dan ketinggian akhlak. Secara luas pendidikan akhlak dan pembinaan mental dalam psikologi agama bertujuan mendidik, dan mengajar manusia, membersihkan dan menyucikan jiwanya serta membina kehidupan mental spiritualnya. Oleh karena itu, dalam psikologi agama, banyak ajaran islam yang dijadikan petunjuk dan ketentuan yang berhubungan dengan pendidikan yang berhubungan dengan jiwa seseorang.
Psikoterapi ajaran islam juga memberikan bimbingan dalam proses pendidikan melepaskan diri dari pengaruh-pengaruh negatif yang senantiasa mengganggu eksistensi kepribadian yang selalu cenderung untuk taat dan patuh kepada Tuhannya. Untuk melepaskan diri dari pengaruh-pengaruh negatif tersebut, psikologi agama memiliki andil yang cukup besar dan berperan serta dalam memeberikan solusi dalam mengatasi setiap permasalahan yang berkaitan dengan jiwa.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang menjadi pembahasan dalam makalah ini adalah:
1.      Apa yang dimaksud dengan Psikoterapi?
2.      Bagaiman pengaruh Agama tentang Psikoterapi?
C.    Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui Apa yang dimaksud dengan Psikoterapi.
2.      Mengetahui Bagaimana Pengaruh Agama tentang Psikoterapi.

D.    Metode Penulisan
Dalam penulisan karya Ilmiah yang sangat sederhana ini, kami mengambil dari berbagai literatur-literatur  yang ada di perpustakaan. Dan kami juga mengambil sedikit banyaknya dari berbagai situs-situs internet yang berkaiatan dengan pembahasan kami.













BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Psikoterapi
Psikoterapi berasal dari kata psycho = jiwa, dan therapy = penyembuhan. Jadi, psikoterapi sama dengan penyembuhan jiwa. Yang dimaksud dengan psikoterapi adalah pengobatan alam pikiran atau lebih tepatnya pengobatan alam psikis melalui metode psikologi.
Dalam pengobatan terhadap penderita neurosis dilakukan dengan menggunakan beberapa terapi, salah satu di antaranya adalah psikoterapi. Yang dimaksud psikoterapi adalah pengobatan alam pikiran atau lebih tepat pengobatan psikis melalui metode psikologi.[1] Dari pengertian tersebut dapat diambil suatu pemahaman bahwa psikoterapi dipandang sebagai upaya kuratif dalam pengobatan orang yang sakit jiwa. Dari pengertian tersebut pula tidak mencakup upaya preventif dan konstruktif.
Psikoterapi kadang-kadang diidentikkan dengan psikoanalisis (al-tahlil al nafsiy), yaitu suatu cara untuk menganalisis jiwa seseorang dangan menggunakan teknik-teknik tertentu. Psikoterapi juga diartikan dengan penerapan teknik khusus pada penyembuhan penyakit mental atau pada kesulitan-kesulitan penyesuaian diri.
Sebenarnya psikoterapi bukan saja untuk pengobatan (kuratif), akan tetapi juga dapat digunakan untuk preventif upaya pencegahan dan konstruktif, demikian pendapat Carl Gustav Jung.[2]
Sementara kegunaan psikoterapi itu sendiri, menurut Muhammad Mahmud, adalah:
1.      Membantu penderita dalam memahami diri sendiri, mengetahui sumber patalogi dan kesulitannya, serta memberikan perspektif masa depannya.
2.      Membantu penderita dalam menentukan bentuk-bentuk patologinya.
3.      Membantu penderita dalam menentukan langkah-langkah dan pelaksanaannya.[3]
Pada umunya psikolog kontemporer menggunakan pendekatan empiric dalam menganalisis patologi pasiennya. Freud, misalnya, menggunakan otobiografi pasien untuk menentukan terapi yang tepat. Sementara terapi yang digunakan dalam bentuk hipnotis, katarsis, asosiasi bebas, dan analisis mimpi. Bentuk teknik ini dilakukan secara bertahap dan berurutan.
1.      Hipnotis
Terapi ini biasanya dilakukan oleh psikiater dengan cara menghilangkan ingatan-ingatan pasien yang mengandung simtom-simtom, kemudian memberikan ingatan baru yang dapat memulihkan kesehatan pasien.
2.      Katarsis
Yaitu pengobatan dengan cara berbicara (talking cure). Cara kerja teknik ini yaitu dengan menyuruh pasien untuk menceritakan simtom yang dideritanya secara rinci yang terdapat dalam jiwanya. Setelah simtom tersebut muncul, kemudian segera dihilangkan.
3.      Asosiasi Bebas
Yaitu dengan membiarkan pasien menceritakan seluruh pengalamannya, baik simtom maupun tidak. Cerita yang dikemukakan tidak mesti harus logis, teratur atau penuh arti. Apa pun isi cerita tersebut harus dikeluarkan, tidak terkecuali yang memalukan yang selama ini mungkin terpendam.
4.      Analisis mimpi
Mimpi merupakan bentuk, isi dan kegiatan dari jiwa seseorang. Oleh karena itu, dengan menggunakan metode ini, diharapkan akan diketahui rahasia pasien yang paling dalam.[4]


B.     Manusia dan Agama
Eksistensi agama merupakan saran pemenuhan kebutuhan esoteris manusia yang berfungsi untuk menetralisasi seluruh tindakannya. Tanpa bantuan agama manusia senantiasa bingung, resah, bimbang gelisah, dan sebagainya.[5] Sebagai akibatnya manusia tidak mampu memperoleh arti kebahagiaan dan kesejahteraan hidupnya.
Kondisi jiwa yang tidak tenang, seperti gelisah, resah, bingung, dan sebagainya dapat dikategorikan dalam gangguan jiwa atau dalam istilah psikopatologi disebut dengan neurosis. Dalam al-Quran (ajaran agama islam) disebutkan dengan jelas, bahwa dengan mengingat Allah, jiwa manusia akan menjadi tenang, bahwa al-Quran adalah petunjuk dan sebagai obat, dan sebagainya.
Dalam memahami Islam sebagai sebuah agama, terdapat tiga paradigma yang bisa dikembangkan:
1.      Agama dalam dimensi subjektif, yaitu kesadaran keimanan umat (aqidah).
2.      Agama dalam dimensi objektif, yaitu berupa amaliah atau perilaku pemeluk agama (akhlak).
3.      Agama dalam dimensi simbolik, yaitu ajaran keagamaan atau biasa disebut dengan syariat.[6]
Ketiga dimensi tersebut merupakan satu kesatuan yang integral. Apabila perilaku umat Islam tidak mampu mencerminkan ketiga dimensi tersebut, ia tidak akan mampu menghayati dan menjadikan agama Islam sebagai alternatif terapi dalam berbagai persoalan yang dihadapinya.
Agar manusia mampu mengahayati agamanya dengan baik, maka manusia harus menjadikan Islam sebagai acuan kehidupannya secara keseluruhan, sebagaimana firman Allah:
“Hai orang yang beriman, masuklah kamu pada agama Islam secara sempurna”. (Q.S. al-Baqarah [2] : 208 )
Ayat tersebut di atas memberikan gambaran bahwa agama Islam merupakan suatu ajaran agama yang universal dan mengatur seluruh kehidupan manusia. Oleh karena itu, persoalan manusia yang berkaitan dengan keresahan jiwa akan terselesaikan dengan baik manakala manusia menjadikan Islam sebagai way of life dalam kehidupannya. Dengan demikian, menjalankan ajaran agama Islam secara baik dan benar akan dapat menjadi terapi bagi penderita neurosis.

C.    Macam-Macam Terapi
Dadang Hawari[7] membagi terapi dalam beberapa bentuk:
1.      Terapi Holistik, yaitu terapi yang tidak hanya menggunakan obat dan ditujukan kepada gangguan jiwa saja, tetapi juga aspek-aspek lainnya dari pasien, sehingga pasien diobati secara menyeluruh, baik dari segi organobiologik, psikologik, psikososial, maupun spiritualnya.
2.      Psikoterapi psikiatrik. Tujuan utama terapi ini adalah untuk memulihkan kembali kepercayaan diri dan memperkuat fungsi ego.
3.      Psikoterapi keagamaan, yaitu terapi yang diberikan dengan kembali mempelajari dan mengamalkan ajaran agama Islam.
4.      Farmakoterapi (psikofarmaka), yaitu terapi dengan menggunakan obat.
5.      Terapi somatic, yaitu terapi dengan memberikan obat-obatan yang ditujukan pada keluhan atau kelainan fisik/organik pasien.
6.      Terapi relaksasi, yaitu terapi yang diberikan kepada pasien yang mudah disugesti.
7.      Terapi prilaku. Terapi ini dimaksudkan agar pasien berubah, baik sikap maupun perilakunya terhadap objek atau situasi yang menakutkan.

D.    Psikoterapi Keagamaan
Menurut Carl Wetherington dalam Muchtar Buchari orang yang tidak merasa kurang aman dalam hatinya adalah orang yang mengalami gangguan jiwa. Gangguan jiwanini dapat ditelusuri berdasarkan tiga hal. Pertama, persepsi orang yang menganggap dirinya paling hebat atau menganggap orang lain berada dibawah dirinya. Kedua, perilaku sesorang yang menyimpang. Ketiga, orang merasa putus asa.
Dari ketiga hal tersebut, orang yang mengalami gangguan jiwa yang disebabkan oleh persepsi dirinya yang dianggap paling hebat akan memandang orang yang berada disekelilingnya pun selalu dinilai dengan ukuran persepsi dirinya yang dianggap paling hebat. Sikap orang yang mengalami gangguan mental seperti ini akan terlihat aneh dan menyimpang dalam pandangan umum, sedangkan orang tersebut menyadarinya. Jiwa orang seperti ini selalu memberontak dan putus asa yang disebabkan oleh kegelisahannya yang muncul dari konflik batin yang dialaminya. Gangguan jiwa seperti ini melemahkan kemampuan penderita untuk menemukan norma yang berlaku etika dan moral yang bersifat universal serta melemahkan rasa tanggung jawabnya dalam berinteraksi dengan realitas disekitarnya dengan baik.
Psikologi agama dalam Islam didasarkan pada kehadiran Islam sebagai rahmatan lilalamin membawa norma-norma bagi manusia tentang jalan yang harus ditempuh dalam hidupnya. Kehadiran Islam mengubah peradaban manusia dangan mengubah cara berpikir dalam memandang dirinya, orang lain dan alam semesta. Dan begitu juga Islam mengajarkan bagaimana menjalani hubungan dengan Allah dengan manusia dan dengan alam sekitar, maupun dengan dirinya sendiri.
Psikoterapi keagamaan dalam Islam dapat dirujuk dari ayat al-Quran maupun hadis Rasulullah yang dijadikan pedoman dalam melaksanakan psikoterapi.
1.      Ayat-ayat al-Quran tentang psikoterapi
a.       Psikoterapi melalui Iman
Firman Allah SWT
Artinya:
“Barang siapa yang mengajarkan amal sholeh, baik laki-laik maupun perempuan dalam kedaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri alas an kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (Q.S. An-Nahl : 97)
Dengan beriman kepada Allah dan selalu berperilaku yang baik dapat melahirkan kedamaian jiwa, keridhoan, kelapangan dan kebahagiaan sesuai dengan janij Allah SWT yang diperuntukkan kepada hamba-Nya yang beriman, yakni kehidupan yang baik di dunia dan balasan yang setimpal di akhirat.
b.      Psikoterapi melalui Ibadah
1)      Ibadah Shalat
Firman Allah SWT.
Artinya:
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat”. (Q.S. al-Baqarah : 45 )
2)      Ibadah Puasa
Firman Allah SWT.
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (Q.S. al-Baqarah : 183 )
Ibadah dapat mengajarkan manusia mengenai sifat terpuji seperti sabar dalam menerima cobaan atau musibah, mengontrol hawa nafsu dan syahwat, taat, disiplin, mencintai sesama manusia, saling tolong menolong di antara sesama, suka menolong orang yang membutuhkan pertolongan, memiliki jiwa gotong royong, dan memiliki jiwa solidaritas sosial, serta sifat terpuji lainnya. Kesemuanya merupakan indikator mental yang sehat.
c.       Psikoterapi melalui Zikir
Firman Allah SWT.
Artinya:
“Dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (Q.S. al-Jum’ah : 10 )
Berzikir kepada Allah SWT dapat mendekatkan seorang hamba dengan tuhannya. Jika tuhan mendekati hamba-Nya akan melindunginya, melimpahinya dengan rahmat dan kebahagiaan serta kedamaian jiwa.
d.      Psikoterapi melalui al-Quran
Firman Allah SWT.
Artinya:
“Dan kami turunkan dari al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman”. (Q.S. al-Isra’ : 82 )
Sesungguhnya ketenangan jiwa akan diberikan kepada orang yang mau membaca al-Quran dengan penuh keikhlasan dan berpasrah diri kepada Allah SWT.

2.      Hadis Rasulullah tentang psikoterapi
a.       Psikoterapi melalui Iman
Dari Nukman ibn Basyir Rasulullah bersabda:
“Ingatlah! Sesungguhnya dalam fisik (raga) itu terdapat segumpal daging. Jika sehat, maka seluruh tubuhnya pun akan sehat. Namun, jika rusak maka seluruh tubuhnya pun akan rusak. Ingatlah! Segumpal daging tersebut adalah hati”. (H.R Muslim dan Turmidzi)
b.      Psikoterapi melalui Ibadah
Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Allah SWT berfirman: “Barang siapa yang kembali kepada-ku sebagai seorang wali, maka aku mengizinkannya untuk berperang. Hamba-ku yang terus mendekatkan diri kepada-ku dengan melakukan ibadah sunnah hingga aku mencintainya. Jika aku mencintainya, maka aku akan menjadi pendengar yang mendengarnya, penglihat yang melihatnya, tangannya yang dapat menggenggamnya, dan kaki yang menjalannya. Jika dia memohon kepada-ku, niscaya aku akan memenuhinya dan jika memohon perlindungan kepada-ku, niscaya aku akan melindunginya”. (H.R. Abu Daud)
c.       Psikoterapi melalui Zikir
Dari Abu Hurairah dan Abu Said Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah suatu kelompok yang duduk berdzikir melainkan mereka akan dikelilingi oleh para malaikat. Mereka mendapat limpahan rahmat dan mencapai ketenangan. Dan Allah SWT akan mengingat mereka dari seseorang yang diterima disisi-Nya”. (H.R. Muslim dan Turmidzi)
d.      Psikoterapi melalui al-Quran
 Dari Ali RA, Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik obat ialah al-Qur’an”. (H.R Abu Majah)
Hadis ini mengisyaratkan bahwa al-Quran merupakan obat segala macam penyakit, baik penyakit jiwa maupun penyakit fisik tubuh (raga).













BAB III
PENUTUP
psikoterapi adalah pengobatan alam pikiran atau lebih tepatnya pengobatan alam psikis melalui metode psikologi. Jadi dapat diambil suatu pemahaman bahwa psikoterapi dipandang sebagai upaya kuratif dalam pengobatan orang yang sakit jiwa.

Ajaran agama Islam di bidang akhlak dan kejiwaan, mempunyai relavansi yang erat dengan kesehatan jiwa dengan memasukkan ajaran agama, ketaqwaan kepada Tuhan, dalam kesehatan mental, berarti ada titik singgung antara hal-hal tersebut.
Aspek agama masuk dalam psikologi ini karena agama merupakan salah satu kebutuhan psikis dan rohani manusia yang perlu dipenuhi oleh setiap manusia yang merindukan ketentraman di dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak.















DAFTAR PUSTAKA
Sururin, M.Ag. Ilmu Jiwa Agama. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta.
Ramayulis H. Prof. Dr. Psikologi Agama. RADAR JAYA. Jakarta.
Jalaluddin H. Prof. Dr. Psikologi Agama. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta.
Thouless, Robert H. Pengantar Psikologi Agama. PT RajaGrafindo Persada. 2000.



[1] Frieda Fordman, Pengantar Psikologi C.G. Jung, (Jakarta: Bhatara Karya Aksara, 1988), h.69.
[2] Ibid., h.80.
[3] Muhammad Mahmud, Ilm al-Nafs al-Ma’ashir fi Dhaui al-Islam, (Jeddah: Dar al-Syuruq. 1984), h. 402.
[4] Calvvin S. Hall dan Gardner Lindzey,Teori-teori Holistik: Organismik Fenomenologi, Yogyakarta: Kanisius, 1993), h. 110.
[5] Yahya Jaya, Spiritualisasi Islam dalam Menumbuhkembangkan Kepribadian dan Kesehatan Mental, (Jakarta: Ruhama, 1994), h. 81.
[6] Masdar Farid Mas’udi, Dialog: Kritik dan Identitas Agama, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1993), h. 151-152.
[7] Dadang Hawari, Alquran: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, (Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Jasa, 1995), h. 66-74.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar